ADVETORIALGORONTALOHEADLINESHUKUM & KRIMINALKAB. GORONTALO

Wujud Kolaborasi Pemerintah & Vertikal, Hasilkan Warga Binaan Sehat dan Berakhlak

GORONTALO, sulutGO- Di dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) tidak semuanya narapidana dalam kondisi sehat, bagi narapidana yang sakit seharusnya mendapatkan pelayanaan kesehatan yang optimal, sehingga sangat penting untuk melengkapi fasilitas kesehatan untuk memaksimalkan pelayanan kesehatan bagi warga binaan di lapas.

Kaitannya dengan hal ini, Bupati Gorontalo Prof. Nelson Pomalingo yang saat menghadiri HUT ke 2 Lapas Perempuan kelas III Gorontalo yang berlokasi di Kabupaten Gorontalo menilai, bahwa satu hal yang menjadi kekurangan pada lapas perempuan ini adalah pemenuhan infrastruktur di sektor kesehatan.

Maka dari itu, untuk memenuhi hal tersebut, pihaknya memberikan bantuan mobil ambulans serta fasilitas kesehatan lainnya guna untuk menunjang infrastruktur di lapas tersebut.

“Dengan itu kami memberikan ambulans dan beberapa fasilitas lainnya. Namun tidak bisa dipungkiri bantuan yang diberikan masih sangat terbatas. Untuk itu kedepannya akan kita akan lihat dan bedah lagi, apa yang boleh kita bantu,” tutur Nelson, Sabtu (23/2/19).

Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Kementrian Hukum dan Ham (Kakanwil Kemenkumham) Agus Subandrio mengatakan, bahwa dirinya sangat mengapresiasi adanya acara peringatan 2 tahun lembaga ini.

“Untuk itu kehadiran saya merupakan wujud deklalator dan menunjukan bahwa keberadaan kami disini tidak sendirian , karena ada unsur pendukung lainnya seperti pemerintah baik provinsi dan kabupaten, Polri, kampus dan unsur lainnya,” ujarnya.

Pihak kakanwil mengaku, juga sudah menjalankan kewajibannya dalam menurunkan over hunian (peningkatan warga binaan), serta menjadikan perempuan dan anak sebagai prioritas utama.

“Yang jelas sesuai dengan kebijakan dari Kemenkumham, kami berusaha untuk mengurangi over hunian. Perempuan dan anak-anak merupakan prioritas utama karena mengingat dari sisi HAM mereka termasuk dalam kelompok yang rentan yang harus diperhatikan dan tidak mungkin dicampur dengan kaum lelaki dan anak-anak dicampur dengan yang dewasa,” jelasnya.

Ia juga berharap dengan dengan keberadaan lapas ini, dapat menghasilkan warga binaan yang akhlaknya bisa lebih baik.

“Ketika masuk napi, maka keluar harus santri. Buat apa membangun kemandirian kalau akhlaknya tidak baik maka ini harus ada keseimbangan,” kata Agus.

Pada kesempatan itu juga, Kepala Lapas Nur Afiril Utami menginformasikan bahwa, sampai saat ini jumlah warga binaan mencapai 88 orang dan 5 bayi.

“Kapasistas 150, dan jumlah yang ada saat ini 88 ditambah dengan 5 bayi yang merupakan anak dari warga binaan yang diikutkan dengan ibunya karena masih dalam proses menyusui namun ditidurkan di ruang terpisah,” tuturnya.

Adapun kasus yang paling banyak dilapas tersebut didominasi oleh Tipikor, Narkoba dan Kriminal.

Disamping itu, lembaga yang dipimpinnya tersebut sudah mendapatkan beberapa penghargaan berupa Stand terbaik di beberapa pameran, baik tingkat daerah dan nasional, serta penghargaan pelayanan HAM terbaik. (adv)

Be Sociable, Share!

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close