ADVETORIALGORONTALOHEADLINESKAMPUSPENDIDIKAN

Tingkatkan Kompetensi Literasi, 10 Dosen UG Ikuti Kegiatan Sertifikasi Penulis dan Editor

GORONTALO, sulutGO- 10 dosen di lingkup Universitas Gorontalo (UG) menjadi bagian dari sertifikasi penulis dan editor yang diselenggarakan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) Pusat, di Hotel New Rachmat, Kota Gorontalo, Selasa (21/5)/19).

Seperti diketahui, kegiatan tersebut diikuti sebanyak 100 peserta dari berbagai daerah di Indonesia termasuk para dosen UG, dimana ke -10 dosen tersebut ialah Dr. Ec. H. Ilyas Lamuda.,MM, Dr. Meimoon Ibrahim, SE.,MM, Dr. Roy Marthen Moonti, SH.,MH, Nurmin K Martam, SH.,MH, Atika Marzaman, S.IP.,MA, Nur Istyan Harun, S.IP.,MA, Kalsum R Jumiyanti, SE.,M.Si, Dian Puspaningrum, S.Hut.,M.Hut, Nurwita Ismail, SH.,MH dan Nurmala Santy Dera, S.T.,MT.

Dalam sertifikasi ini, BNSP menyiapkan 4 tim sebagai penilai, Dr. Ec. H. Ilyas Lamuda, MM, salah seorang dosen UG peserta sertifikasi mengaku, dengan mengikuti kegiatan ini tentu menjadi satu kebanggaan tersendiri.

Karena, dengan sertifikasi ini akan memberikan dampak positif bagi seorang penulis terlebih dosen.

“Kalau buku kami mendapatkan respons positif dari pembaca, memperoleh penghargaan, dan dinobatkan sebagai buku laris atau buku terbaik, tentu itu sebuah kebanggaan. Makanya melalui sertifikasi ini akan lebih memotivasi kami untuk menulis lebih baik lagi, dan pada dasarnya penulisan dan penerbitan buku adalah bentuk aktualisasi, sehingga kami akan buktikan jika kami mampu berkarya” imbuh Ilyas.

Menurutnya, sertifikat kompetensi penulis – editor tentu memberikan peluang bagi penulis untuk mendapatkan pengakuan negara atas kompetensinya.

Sertifikat ini menunjukkan level profesionalitas di bidang publikasi ilmiah sehingga memang benar-benar layak mendapatkan angka kredit.

Dimana, di lembaga pendidikan, para pemegang sertifikat ini secara langsung akan memberi dampak pada akreditasi lembaga pendidikan.

“Jadi, banyaknya penulis-editor tersertifikasi menunjukkan kapasitas lembaga tersebut dalam melaksanakan publikasi ilmiah, terutama di bidang penerbitan buku” jelas Ilyas.

Sementara itu, Wakil Dekan Fakultas Hukum UG Dr. Roy Moonti, SH.,MH mengaku, dengan sertifikasi kompetensi ini maka mereka sebagai penulis atau editor bertanggung jawab terhadap standar, kaidah, dan kode etik dalam penulisan-penerbitan.

Dalam hal kode etik, ia harus menjunjung sikap antiplagiarisme yang memang diperangi dalam dunia penulisan-penerbitan.

“Bagi mereka yang melakukan plagiat boleh jadi akan ragu dan sangsi untuk mengikuti uji kompetensi karena portofolio karya mereka akan diperiksa serta diverifikasi oleh asesor kompetensi. Peserta uji kompetensi (asesi) yang diketahui melakukan plagiat tentu akan dinyatakan belum berkompeten (BK). Di sisi lain, pemegang sertifikat kompetensi yang diketahui melakukan plagiat maka sertifikatnya akan dicabut oleh LSP” ujar Roy.

Lebih lanjut Roy mengatakan, dengan memegang sertifikat kompetensi, maka tentu setiap penulis atau dosen wajib terus berkarya selama tiga tahun masa berlakunya sertifikat.

Jika tidak menghasilkan karya tulis atau karya suntingan selama tiga tahun, eksistensinya akan dipertanyakan dalam perpanjangan sertifikat.

“Jadi, pemegang sertifikat mau tidak mau akan terdorong untuk terus berkarya dan menghasilkan karya-karya dengan standar mutu yang ditetapkan” tutupnya. (hmsug)

Be Sociable, Share!

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close