BOLMONG RAYABOLMUTHEADLINESKESEHATANSULAWESI UTARA

Pemkab Bolmut Komitmen Tuntaskan Stunting Melalui 8 Aksi Integritas

BOLMUT, mediasulutgo.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bolaang Mongondow Utara (Bolmut) terus gencar menekan angka kasus Stunting di wilayahnya. Bolmut sudah pada tahap Aksi ke empat.

Hal ini dikatakan, Kepala Badan Perencanaan Penelitian dan Pembangunan (Bapelitbang) Bolmut, Abdul Nazarudin Maloho saat bersua dengan media ini di Kantor Dinkes Bolmut, Rabu (24/06/2020).

Disampaikan Maloho, bahwa dalam pelaksanaan percepatan pencegahan anak kerdil (stunting) ada delapan aksi integrasi yang dilakukan. Yaitu aksi 1. Identifikasi sebaran stunting, cakupan layanan, ketersediaan program, dan kendala dalam pelaksanaan integrasi intervensi gizi. Aksi 2. Menyusun rencana kegiatan untuk meningkatkan pelaksanaan integrasi intervensi gizi. Aksi 3. Menyelenggarakan Rembuk Stunting tingkat Kabupaten/Kota. Aksi 4. Memberikan kepastian hukum bagi desa untuk menjalankan peran dan kewenangan desa dalam intervensi gizi terintegrasi.

Kemudian aksi 5. Memastikan tersedianya dan berfungsinya kader yang membantu Pemerintah Desa dalam pelaksanaan intervensi gizi terintegrasi di tingkat desa. Aksi 6. Meningkatkan sistem pengelolaan data stunting dan cakupan intervensi ditingkat kaabupaten/kota. Aksi 7. Melakukan pengukuran pertumbuhan dan perkembangan anak balita dan publikasi angka stunting kab/kota. Aksi 8. melakukan reviu kinerja pelaksanaan program dan kegiatan terkait penurunan stunting selama satu tahun terakhir.

“Bolmut sudah pada tahap Aksi ke empat. Memberikan kepastian hukum bagi desa untuk menjalankan peran dan kewenangan desa dalam intervensi gizi terintegrasi. Bolmut juga menjadi contoh bagi daerah lain di Sulut. Karena mereka baru memulai langkah pencegahan stunting,” Jelasnya.

Lebih lanjut, Maloho yang juga selalu Ketua Tim Penanggulangan Stunting di Bolmut menegaskan stunting merupakan salah satu program nasional dalam pembangunan Sumber Daya Manusia. Untuk itu, masalah stunting jadi tanggung jawab bersama.

Ditempat yang sama, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bolmut dr Jusnan Mokoginta MARS, mengemukakan bahwa kasus Stunting di Bolmut terus mengalami penurunan. Dimana, pada tahun 2017 43 persen dan pada tahun 2020 turun derastis menjadi 16,5 persen.

“Keberhasilan ini berkat kerjasama meluai intervensi sensitif yang melibatkan beberapa SKPD, Pemerintah Kecamatan, Pemerintah Desa dan masyarakat,” Tuturnya.

Selanjutnya, kata Jusnan, yang juga selaku Sekretaris Penanggulangan stunting mengungkapkan sebanyak 10 desa menjadi pilot project di Kabupaten Bolmut tahun 2020. Dimana stunting merupakan keterlambatan tumbuh – kembang balita yang disebabkan oleh dua hal, yakni tidak tercukupinya kebutuhan gizi dan penyakit infeksi menular.

“Standarnya itu ada di buku KIA, dan untuk mengenal stunting di sini ada dua pendekatan melalui intervensi spesifik dan intervensi sensitif,” katanya.

Menurut dia, stunting akan ditangani dengan beberapa pendekatan. Secara spesifik akan dilihat masalah gizi, kecukupan gizi, pemeriksaan kesehatan, dan pemberian tambahan asupan gizi.

“Untuk intervensi sensitif, dilakukan dengan perluasan akses terhadap kecukupan gizi, masalah pangan, sanitasi, lingkungan, perilaku dan kehidupan sosialnya,” Pungkasnya. (Dolvin)

Be Sociable, Share!
Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close